Macan Asia dan Negeri Ginseng

Kamu tau? Saat ini Korea merupakan negara berteknologi tinggi nyaris menyaingi Jepang? Di sepanjang jalan, subway, pertokoan dan di manapun, hampir semua orang Korea memegang ponsel, ipad, galaxy tab, sampai tv pocket di tangannya. ( Lihat: Tingginya Teknologi di Korea Selatan )

Korea menjadi negara dengan perkembangan yg cepat dan luar biasa. Saya mulai berpikir mengapa hal tersebut bisa terjadi, dan saya menemukan satu kata yaitu NASIONALISME. Penduduk Korea mempunyai komitmen yang kuat dengan kemajuan negaranya. Mereka sebisa mungkin menghindari memakai produk asing, dan lebih memilih untuk menggunakan produk dr negara asalnya sendiri. Dengan demikian pertukaran uang di negara mereka berjalan dengan baik, dan pendapatan perkapita negara mereka tinggi sehingga mereka mmpunyai modal besar untuk meningkatkan teknologi mereka.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yg terjadi di negara tercinta kita, ketidakpercayaan pada produk negeri sendiri membuat bangsa kita selalu ‘ngiler’ melihat produk dr negara lain. Padahal orang-orang negeri seberang itu sangat mengagumi dan menyukai produk kita, sampai-sampai mereka membuat pabrik ‘disini’ dan memberi merek pada produk yang di buat di negara kita ‘disana’ dan dikembalikan lagi kesini dengan harga yang jauh berbeda, kemudian kita  dengan bangganya mengatakan telah membeli produk dengan merek luar. Sounds silly, right?

Satu lagi yang saya kagumi dari Negeri Ginseng ini, masing-masing industri mereka bekerja sama dan mendukung satu dengan yang lainnya. Sering melihat drama Korea yang booming akhir-akhir ini? Lihat ponsel yang biasa digunakan oleh para aktor tampan F4 pada drama Boys Before Flowers?

F3 dan Samsung Korea

Memperhatikan situasi kerajaan dan budaya yang ditampilkan pada Jewel in the Palace dan Pricess Hours?

Jewel in the Palace

Atau lebih simpel lagi, apa kalian melihat wajah-wajah tampan dan cantik nyaris sempurna para artis dan aktor korea saat ini?

Ya, hal ini membuktikan bahwa mereka saling bahu membahu untuk membangun tiap-tiap industri yang ada di negaranya, ponsel-ponsel yang di gunakan para artis dan aktor korea itu adalah produk buatan negeri mereka sendiri. Mereka membuat kita mengikuti alur dan mengerti budaya mereka dalam tiap-tiap drama yang mereka buat. Mereka serius membangun industri perfilman mereka, yang didukung oleh ahli-ahli bedah kecantikan sehingga didapatkanlah artis-artis dan aktor-aktor dengan  rupa yang nyaris sempurna dan kulit  yang putih bersinar. Di lain pihak ahli bedah disana mendapat pemasukan yang tinggi untuk meningkatkan teknologi lebih baik lagi. Bahkan, saat ini operasi bedah plastik sudah lazim dilakukan oleh khalayak umum dengan tarif yang terjangkau. Tidak percaya? Coba kalian browsing film-film Korea zaman dahulu di YouTube,  kalian tidak akan menemukan sosok bidadari nyaris sempurna seperti SNSD atau cowok-cowok keren sekaligus cantik ala Super Junior.

SNSD

Saat ini Korea menjadi salah satu tempat yang sangat diminati wisatawan. Mereka membuat tempat-tempat khusus sebagai kenangan dari drama seri yang mereka buat, seperti Winter Sonata, Coffee Prince, Jewel in the Palace, Princess Hours, atau drama-drama seri lainnya yang pernah booming di luar negaranya. Hal ini tentu menarik perhatian wisatawan terutama para penggemar drama seri Korea. Nah, dengan tingginya wisatawan yang masuk otomatis industri pariwisata mereka diuntungkan dan pendapatan negara mereka juga tinggi bukan? Hal ini hanya dikarenakan satu hal “DRAMA KOREA”. ( Lihat: 5 Tempat Wisata ‘Drama Korea’ yang Wajib Dikunjungi )

Bagaimana dengan negara kita tercinta ini? Dengan beribu budaya, kekayaan alam yang tiada habisnya, dan sumber daya manusia yang tidak kalah hebat. Bahkan artis-artis dan aktor-aktor di negeri kita pun tidak perlu di operasi plastik untuk mendapatkan wajah rupawan. Kemampuan akting mereka pun diatas rata-rata. Namun, mengapa kita tidak dapat semaju mereka?

Pemahaman di negara kita ini mungkin masih sebatas untung-rugi saja. Contoh kecilnya adalah “Pertamax di Pertamina sedikit lebih mahal dari pada di pom bensin asing lain, mending beli disana aja.” atau “Ah, mending beli sepatu merek X dari negara ini, daripada buatan lokal, kurang keren.” Bisa juga “Selama rating sinetron ini masih tinggi terusin aja sampe Session tak terhingga”, padahal inti ceritanya sendiri udah tidak karu-karuan dan muter-muter di lingkaran setan itu-itu aja. Betul tidak?

Hei, ini negara bung, bukan keluarga berencana dengan dua anak di dalamnya. Kalau sebatas tawar menawar sayur dipasar boleh lah. Jika ada satu juta orang yang berpikiran seperti diatas, sudah pastilah, negara asing mendapat keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dengan negara kita. Padahal apabila kita menggunakan produk sendiri, sudah pasti negara kita juga diuntungkan dengan pendapatan yang tinggi  dan teknologi juga bisa ditingkatkan. Kalau saja seperti di negara lain jumlah episode per-session sinetron kita di batasi, sudah pasti inti cerita dari sinetron indonesia lebih jelas, dan mendorong ide kreatif para produser dan penulis cerita untuk membuat cerita yang beragam dan lebih baik lagi jika dengan tema-tema yang mendorong kemajuan industri pariwisata di Indonesia. Meskipun saya tau beberapa FTV sudah melakukan hal tersebut.

Masalah mungkin berawal dari krisis kepercayaan penduduk terhadap negaranya, padahal kalau penduduknya saja sudah tidak percaya kepada negaranya, lantas bagaimana negara kita bisa berdiri tegak dan mendapat julukan Macan Asiaseperti zaman Bung Karno? Semua memang dimulai dari kesadaran kecil diri sendiri. Tidak hanya kesadaran untuk memerdekakan negara, tapi memerdekakan diri sendiri agar tidak diinjak-injak.

Cintai negara ini, negara yang kaya akan bahasa dan kebudayaan, negara yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Hargai karya-karya para seniman dan anak-anak indonesia yang menjadi juara olimpiade, jaga mereka, jangan sampai mereka di ‘caplok’oleh negara asing yang lebih menghargai mereka. Kalau hal tersebut terjadi, lantas kita bisa apa? Pasrah?

Nasionalisme mungkin kini hanya dipelajari oleh anak-anak sekolah dasar. Tau kah kamu, pada dasarnya pelajaran itu seharusnya di sisipkan pada setiap mata pelajaran atau mata kuliah kita, bahkan pada dunia kerja sekalipun. Ini tanah kita, kebanggaan kita, bambu di tanam saja bisa jadi tanaman. Ribuan pulau indah yang mengelilingi kita, bahkan salah satu keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur pun berada di tanah kita.

Borobudur Temple

Surga dunia Pulau Dewata Bali pun di tanah kita.

Tanah Lot, Bali

Mengapa kita harus berpikir dua kali untuk menggunakan produk kita? Mengapa kita tidak bahu-membahu untuk memajukan negara dan bangsa kita ini?

Sekali lagi, hal ini memang harus dimulai, dari diri sendiri.

Untuk mengembalikan sang Macan Asia.

Borneo, 13 Agustus 2011

Aphrodheti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: