“Ridha Allah, Ridha Orang Tua”

Cerita Kecil untuk Papa

Cerita kecil ini sebenarnya sudah lama ingin aku tulis dan publikasikan di dalam blog pribadiku. Tapi kesibukan dan munculnya beberapa hobi dadakan ku seperti berolahraga (dulu aku paling anti sama yang namanya olahraga) membuatku sempat menjauh dari aktivitas tulis menulis yang telah menjadi hobiku sejak dulu. Cerita kecil ini aku buat untuk mengenangnya. Laki-laki yang saya kagumi, sayangi, dan cintai, yaitu Papa.

Aku adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Sudah paling bontot. Aku juga anak perempuan satu-satunya. Tidak heran kalau kelakuanku sebenarnya sedikit tomboy dan agak galak. Lha wong, kerjaanku dulu nemenin abang nonton film silat kolosal dan main game berantem-berantem, selain Mario Bross sih sebenarnya.

Aku tumbuh dengan lingkungan yang bisa dibilang protective. Sampai menduduki bangku kuliah, selagi bisa aku masih suka di antar-jemput. Papa adalah seseorang yang tidak suka anak gadis satu-satunya pulang-pergi sendirian. Yes, I’m a Daddy little princess. Awalnya aku malu, tapi lama kelamaan sih, santai. Aku justru bangga punya orang tua yang totally perhatian terhadap tumbuh kembang dan keamanan anak gadisnya.

Sore itu, ditengah dingin yang terasa pedih menusuk kulit di kota Bandung karena hujan yang sangat deras. Aku masih mengingat jelas saat aku berlari membanting pintu kamar dan menangis. Karena hal sepele, Papa tidak mengizinkanku untuk pergi ke Jakarta mengikuti tes penerimaan pekerja baru di salah satu Bank Syariah. Biasanya Papa selalu mengantarku kemanapun aku pergi, termasuk mengikuti tes penerimaan pekerja baru yang ada di Jakarta. Usianya yang sudah menginjak 67 tahun tidak menghalanginya untuk tetap mengantarkanku. Akan tetapi kondisinya saat ini adalah Papa baru mengalami cidera pada tulang punggungnya yang membuatnya sulit bergerak apalagi berjalan jauh. Sebulan sebelumnya Papa pernah mengantarkanku ke Jakarta untuk tes penerimaan pekerja baru di salah satu BUMN terbesar di Indonesia.

Suara hujan menutupi isak tangisku di dalam kamar. Aku kesal. Mengapa aku tidak boleh pergi sendirian ke Jakarta? Aku kan bukan anak kecil lagi, bulan lalu aku baru saja di wisuda. Sudah waktunya aku di beri kepercayaan untuk pergi seorang diri. Ini bukan yang pertama kalinya Papa melarangku untuk pergi tes seorang diri. Disaat teman-temanku yang lain sibuk mengikuti tes kerja di sana sini aku hanya duduk diam dirumah. Papa hanya mengatakan, “Sudahlah, tunggu saja pengumuman di perusahaan itu dulu, kalau tidak diterima baru cari yang lain.”

Hah? Memangnya gampang masuk kesana? Ribuan orang dari seluruh Indonesia menginginkan masuk ke perusahaan itu. Bahkan perusahaan itu masuk di peringkat pertama perusahaan yang diincar oleh para pencari kerja. Aku cuma bisa menangis memeluk Teddy Bear ku. Aku baru lulus, fresh graduate, masa iya langsung bisa masuk ke perusahaan sebesar itu?

Saat itu abangku yang keempat masuk ke kamarku. “Udahlah, turutin aja apa kata orang tua, ga ada salahnya kan buat orang tua seneng. Jangan salah lo, ridha Allah itu ridha orang tua.” katanya kemudian.

Aku terdiam. Perlahan aku berhenti menangis. Aku tersadar telah melakukan suatu kesalahan. Ya, ridha Allah adalah ridha orang tua. Segera aku mengucap istigfar dan menghapus air mataku. Papa adalah seseorang yang tidak bisa tenang membiarkan anak gadisnya pergi seorang diri, tidak akan pernah tidur apabila anak gadisnya belum pulang, dan Papa adalah orang yang paling pertama khawatir apabila aku mengalami sedikit saja luka pada bagian tubuhku.

Aku menghela nafas. Bagaimana bisa aku membiarkan Papa yang sedang sakit mengkhawatirkan kepergianku? Papa pasti ingin yang terbaik untukku. Aku pun kembali membuka pintu dan tersenyum. Mengajaknya mengobrol seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa.

Ternyata berita gembira itu benar-benar datang. Aku diterima bekerja di perusahaan tersebut. Segera aku sujud syukur. Dadaku bergemuruh kencang. Subhanallah… ya Allah, rencanamu selalu indah untukku. Aku diterima di perusahaan ini tanpa harus lelah mengikuti berbagai macam tes di berbagai tempat seperti teman-temanku yang lain. Ridha orang tuaku benar-benar menjadi ridha Allah.

Pada umur 68 tahun, Papa tutup usia. Belum sampai setahun sejak aku diterima kerja. Aku sedih bukan main. Belum sempat aku membahagiakan Papa dengan hasil keringatku. Tapi aku tau, tugas Papa di dunia telah selesai. Lima orang anak-anak Papa semuanya telah berhasil menyandang gelar sarjana dan telah memiliki 7 orang cucu yang cerdas dan lucu-lucu. Aku ikhlas. Saat kucium kening Papa untuk terakhir kalinya, aku tau, saat itu Papa telah tenang di sisi Allah. Papa, figur seorang ayah yang sempurna, suami yang ideal untuk Mama. Bahkan di umurnya yang telah senja, pandangan penuh rasa cinta masih seringkali terlihat saat menatap Mama. Lucky her! Ga heran dong, kalau aku ingin mendapatkan suami seperti Papa. Hehee…

Istirahat yang tenang, Pa. Tak usah khawatir aku akan tertidur di kendaraan umum atau lupa dengan arah jalan lagi. Aku akan lebih berhati-hati sekarang.

Look at me, Dad.

I’ll make you always proud of me…

I love you… as always….

Comments
9 Responses to ““Ridha Allah, Ridha Orang Tua””
  1. shinta says:

    aku percaya kamu kuat shiva,,🙂
    semua orang disekitar kmu pun bangga punya kamu disini,,😀

    *bighug*

  2. dinie says:

    Cerita yg mengharukan (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)​

    Semua org tua di dunia pastilah menginginkan yg terbaik utk anak-anak mereka, tapi tidak semua orang tua menjalankan apa yg seharusnya mereka lakukan sbg orang tua. And your dad is really a good example for parents bearing their children..🙂

    Insya Allah kelak berjumpa dgn beliau di JannahNya…

  3. aulleaul says:

    “Udahlah, turutin aja apa kata orang tua, ga ada salahnya kan buat orang tua seneng. Jangan salah lo, ridha Allah itu ridha orang tua.”

    quotenya bagus banget deh siv

    Ceritanya bikin terharu :’)

  4. melly says:

    big hug for my sista

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] saya merasa kurang karena tidak dapat lagi membaginya dengan Papa. Kenapa? Mungkin bisa baca di “Ridha Allah, Ridha Orang Tua”. Yeah, I know maybe it’s like  my favorite Lion King’s […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: