Relativitas Waktu

“Waktu itu seperti angin. Kehadirannya tak dapat dilihat. Namun dalam sedikit gerakannya mampu memutar bumi dan menghentikan nafas apabila ia tiada.”

Saat ini saya berdiri dalam dimensi yang dulu saya sempat merasa ketakutan untuk memasukinya. Work life and maybe soon it’s about marriage life. Dimana saya sepertinya masih terperangkap dalam tubuh yang bertumbuh namun saya masih kokoh dalam idealisme saya mengenai bagaimana hidup seharusnya.

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (As-Sajdah:5)

Well, waktu kita di Bumi yang renta ini begitu singkat. Dalam setiap hembusan nafas, sadarkah anda bahwa saat-saat itu adalah saat yang begitu berharga? Sadarkah tahun demi tahun yang anda lewati dan detik saat anda berusaha melihat masa lalu ini hanya seperti kilatan-kilatan slide show yang berputar dalam otak anda? Mampukah anda mengingatnya secara runtun dan baik?

Sayangnya otak manusia tidak seperti processor Core2Duo yang dengan kemampuannya dapat menampung dan mengoperasikan Mac OS X Lion terbaru keluaran Apple. Kemampuan otak anda juga tidak dapat diukur dengan satuan GigaByte untuk menyimpan memori.

Keterbatasan mengenai memori ini membuat hidup kita terasa singkat bahkan seperti sekejap mata. Saat saya mengunyah butter cookies berbentuk seperti pretzel pagi hari ini dan menghabiskannya saya menyadari ada hal yang tak bisa saya cegah untuk selalu berjalan:

W A K T U .

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” (Al-Mu`minuun:112)

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” (Al-Mu`minuun:113)

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (Al-Mu`minuun:114)

Dalam relativitas waktu yang ternyata singkat ini ini pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala saya adalah:
“Sudahkah saya benar-benar memanfaatkan waktu saya selama ini untuk melakukan hal-hal yang terbaik dan di ridhai Allah?”
“Sudahkah saya bermanfaat untuk orang lain?”
…dan pertanyaan terbesarnya adalah:
“Sudah siapkah saya mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan saya dihadapan Allah nanti?”

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al-Hajj:47)

Pertanyaan yang mungkin untuk sebagian orang merupakan hal yang sepele. Terkadang perkataan: “Mumpung masih muda, nikmati sajaa…” membuat kita terperangkap di dalamnya. Hey, siapa sih yang tau umur? Jangan takabur deh. Mati disaat anda overdosis dan ngedrugs itu sama sekali tidak keren. Lain halnya kalian mati berperang membela agama Allah, darah yang keluar dari tubuh anda pun menjadi saksi kepahlawanan anda dan anda mendapat tiket VVIP untuk masuk surga.

Banyak orang yang skeptikal melihat nilai-nilai religius merepotkan dan tidak sesuai dengan gairah anak muda. Hal tersebut wajar sih, karena mengingat hormon testosteron dan estrogen saat ini bergerak dinamis diiringi pesatnya perkembangan infotainment dan warna-warni dalam layar kaca yang sepertinya mengarah pada paham atheisme dengan freedom of life gaya barat. Pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan dan keyakinan akan ketuhanan mereka masing-masing bukan kebebasan bertindak semaunya. Padahal dari agama itu kita mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kata siapa nilai religius membuat kita tidak bisa bersenang-senang? Justru nilai-nilai religius membuat hidup kita lebih tenang dan tidak out of control. Saat menghadapi masalah kita menjadi lebih tenang dan kuat dalam menghadapinya. Karena kita percaya ada ‘sesuatu’ yang lebih tinggi yang dapat menuntun kita ke jalan yang lebih baik dan akan membantu kita untuk keluar dari masalah. Jika anda mempunyai harga diri yang cukup tinggi sebaiknya anda tidak hanya mengingat Tuhan pada saat anda terkena masalah. Berani meminta berarti memantaskan diri untuk meminta. As simple as that.

Intinya sih pada waktu ini, saat ini, detik ini, adalah momen yang tidak akan mampu kita tukar sekalipun anda orang terkaya di dunia dan mampu menikahkan anak anda dengan biaya milyaran rupiah. Mengisi waktu dengan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi orang lain tidak akan merusak sisi ‘gaul’ kok. Malah doa kebaikan mengalir terus kepada kita. Lakukan yang terbaik sebelum masa kontrak hidup dengan sang Maha Pencipta habis dan kita hanya mampu menangisi hidup karena mengisinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaiknya berhenti menjadi followers hanya untuk merasa diterima oleh lingkungan sekitar. Karena sesungguhnya mempunyai sikap dan menilai hidup dengan sejauh mana bermanfaat untuk orang lain itu jauh lebih keren (lebih keren dari Superman atau Lee Min Ho #eh?).

Menurut penelitian suhu bumi rata-rata 0,2 derajat celsius per 10 tahun atau 2 derajat celsius dalam 100 tahun. Kenaikan suhu sebesar itu menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 20 sentimeter sehingga semakin lama bumi-semakin tidak layak huni karena termakan usia. Hal ini juga terkait dengan satu hal:

W A K T U .

See? Time is priceless. It also eats earth life.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali-Imraan:190)

Semoga kita termasuk orang-orang yang berakal dan mampu mengisi hidup kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Ini juga berlaku untuk saya, yang masih perlu banyak waktu untuk memperbaiki diri.

Amin ya Rabbalamin…

L o v e @chiripaaa

Comments
3 Responses to “Relativitas Waktu”
  1. aulleaul says:

    Sayangnya otak manusia tidak seperti processor Core2Duo yang dengan kemampuannya dapat menampung dan mengoperasikan Mac OS X Lion terbaru keluaran Apple. Kemampuan otak anda juga tidak dapat diukur dengan satuan GigaByte untuk menyimpan memori.————> menurut gw otak kita jauh lebih hebat dari ini🙂

    Berani meminta berarti memantaskan diri untuk meminta. As simple as that. ——–> cool quote

    Lakukan yang terbaik sebelum masa kontrak hidup dengan sang Maha Pencipta habis———–> even cooler quote

  2. Siva says:

    Otak manusia itu memang luar biasa hebat ul.. tapi Allah menciptakannya memang dengan keterbatasan untuk menampung seluruh memori.. ga bisa tinggal “save” terus suatu waktu langsung di “open” lagi… pasti ada “file missing” itu juga terkait dengan pertumbuhan tubuh manusia yang beradaptasi dengan waktu.🙂

    Eniwey… thanks for the comment🙂

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] nostalgia. Saya menginap di kos-kosan lama saya semasa kuliah. Seperti tulisan saya sebelumnya “Relativitas Waktu” saya merasa waktu berlalu begitu cepat. Saya kini telah menjadi sesosok wanita berumur 23 tahun. […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: