Bahagia itu Berbagi

Selamat sore, senja yang menjingga.

Weekend diisi dengan momen nostalgia. Saya menginap di kos-kosan lama saya semasa kuliah. Seperti tulisan saya sebelumnya “Relativitas Waktu” saya merasa waktu berlalu begitu cepat. Saya kini telah menjadi sesosok wanita berumur 23 tahun. Padahal saya merasa perkembangan sel dalam tubuh saya baru berusia 17 tahun (#ngeeek).

Entah mengapa saya merasa hal-hal dalam hidup saya itu seru! Berbagai macam cerita sepertinya sudah terangkum indah dalam imaji saya. Senang-sedih-terharu-melankolis-sampai penyakit galau pernah saya rasakan dan lalui. Jatuh cinta dan patah hati? Tentu saja pernah, bahkan mampu secara singkat menurunkan berat badan saya tanpa perlu diet. Bahahahaa…

Satu hal yang saya sadari penuh dari seluruh cerita yang saya alami. Bahwa indahnya kebahagiaan baru terasa karena berbagi. Berbagi cinta, berbagi senyum, berbagi cerita, dan tentu saja berbagi kebahagiaan.  Membantu orang lain juga mampu menumbuhkan rasa bahagia. Ternyata benar bahwa ada yang mengatakan bahwa:

“Hal yang paling menyedihkan itu adalah disaat kita bahagia akan tetapi tidak ada orang yang dapat kita bagi.”

Saya bahagia dan karena saya bersyukur, saya merasa lebih bahagia lagi. Akan tetapi semua ini masih terasa belum lengkap. Tidak sempurna tanpa kehadiran Papa. Setiap saya merasa bahagia dengan apa yang terjadi dalam hidup saya, saya merasa kurang karena tidak dapat lagi membaginya dengan Papa. Kenapa? Mungkin bisa baca di “Ridha Allah, Ridha Orang Tua”. Yeah, I know maybe it’s like  my favorite Lion King’s quote:

“It’s a circle of life” . 

Saya sangat paham dengan dengan siklus hidup yang selalu berputar dan saya berusaha menyempurnakan ketidaklengkapan ini dengan bersyukur. Pertemuan dan perpisahan itu biasa. Jatuh cinta dan patah hati apa lagi. Kebanyakan menggalau berpotensi menyebabkan stress menahun dan mempercepat proses pengeriputan. Oh, tidak! saya memilih untuk tetap meremajakan kulit saya dengan menikmati hidup… *big grinn*

Saya yakin Papa juga tersenyum melihat kami berkumpul dan berbahagia. Dia pasti akan menunggu kami dengan sabar hingga perjumpaan dengan kami lagi nantinya.

Selagi bisa berbagi, berbagilah.

Selagi masih diberi kesempatan untuk menyayagi dan mencintai, lakukanlah.

Selagi senyum masih bisa menghiasi wajah, tersenyumlah.

Selagi waktu belum merengkuh badan dan kapasitas memori otak belum rusak termakan usia, rangkailah kehidupan dengan hal-hal yang membahagiakan.

L o v e @chiripaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: