Cerita Hujan

Malam ini hujan deras sekali. Seperti membelah perut bumi. Ramai. Seru!

Riuh rendah suara hujan membahana di bawah dinding-dinding langit.

Gadis itu memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan. Dibalik selimut yang tidak bisa dibilang tebal dan bermotif bunga-bunga berwarna kuning, ia bergemeretak pelan. Ia menyukai hujan, tapi ia ragu apakah ia menyukainya saat ini. Ia seakan melayang menuju dimensi waktu dalam pikiran yang tak terarah. Terbang menjelajah sendi-sendi kota hujan yang redup dan temaram.

Gadis bermata bulat itu memutar sedikit posisinya. Dia memainkan jemarinya yang lentik dan meniupnya agar terasa lebih hangat.

Suasana ini…

Mungkin lebih baik kalau dia jatuh tertidur. Tapi sel-sel otaknya masih berpacu dalam irama yang menyentuh sensitifitas hati. Pikirannya hanya pada satu sosok yang hanya bisa ia lihat dari belakang. Saat hujan bayangan itu terlihat semakin jelas. Seperti tak ingin kehilangan momen. Gadis itu memaksimalkan waktu untuk menikmatinya.

Dalam tiap detik menuju pagi. Hujan seakan melonggarkan rongga-rongga pikiran untuk sekedar bernafas mengatur mimpi. Hujan berbisik perlahan dalam dimensi hati yang belum terbentuk sempurna.

Secercah kilat membayangi dinding berwarna kelabu yang hanya disinari oleh lampu pijar berwarna kuning redup.  Sebenarnya mata gadis itu lelah, ingin segera melepas penat dengan terpejam. Tapi dia menikmati setiap bunyi dan desahan hujan itu seperti simfoni merdu dalam lingkaran masa lalu yang berputar.

“Ingin bertemu…”

Ungkapnya dengan bibir yang bergetar namun tanpa suara. Kerinduan macam apa yang ia rasakan, ia sendiri tidak memahaminya. Semuanya seolah seperti lorong tak berujung milik si pemungut waktu.

Sebelum ia menyerah untuk terpejam dalam deritan-deritan kayu yang tertabrak air hujan. Ia tersenyum kecil. Bergumam seolah berbicara pada bayang-bayang yang tak bisa ia rengkuh

“Aku, perempuan yang menyukai hujan, tapi tak ingin menikmatinya sendiri.

Aku, perempuan yang mampu berdiri sendiri, tapi tak ingin sendirian.

Aku, perempuan yang tidak suka keramaian, tapi tak ingin melihat sepi.

Dan….

Aku, perempuan yang tersenyum dalam bingkai takdir, tetapi selalu berharap keajaiban dalam jalan menuju mimpi.”

Gadis itu menggenggam erat jemarinya. Seolah menemukan kekuatan disana. Matanya mengerjap perlahan. Semenit kemudian mulutnya mulai menggumam doa. Doa yang mengantarkannya pada rantai keajaiban yang diraihnya satu persatu. Ia selalu yakin. Seperti sebelumnya.

Hujan semakin deras. Bau tanah yang basah semakin tercium. Ia memejamkan matanya perlahan.  Besok ia bersiap-siap melihat pelangi… yang terbit pada pelupuk matanya…

Comments
8 Responses to “Cerita Hujan”
  1. Rahma Meryam says:

    Hey, cewek multi talenta, bagus deh siv tulisannya, suka bgt. Apalagi di kalimat-kalimat yg lo miringin. Bisa aja sih lo bikin suasana membaca jd dramatis..

    Btw, gw sempet berpikir klo pelangi uda ngga akan ada, satu-satunya yg menghalangi gw berpikir ky gitu cuma ketika orang-orang masih menganggap pelangi itu ada, kemudian gw mulai percaya lagi. Semoga pelangi bener-bener masih ada, krn gw belum pernah lihat pelangi lg sejak gw SD. Semoga gw masih bisa melihat pelangi lagi🙂.

    • Siva says:

      Thank you Rahma. Really miss you a lot lhoo! Pelangi itu selalu ada sehabis hujan, Ma… Bahkan gw pernah lihat pelangi kembar, fenomena yg langka lho, bahkan sampe masuk on the spot, hehhee… yg paling penting adalah lo selalu percaya “hukum”nya… kayak pepatah “sehabis kesulitan pasti ada kemudahan” jadi “sehabis hujan pasti ada pelangi” hihihi… See you in another rainbow, sweety!

  2. Dita says:

    Sweet melancholic story beiybii…:)
    Emang ya yang namanya hujan mendorong inspirasi keluar, ngga cuma tumbuhan aja yang tumbuh subur, haha…
    Kalau dihubungin sama lagu Efek Rumah Kaca, mereka bilang “Seperti pelangi setia, menunggu hujan reda”, seperti kita yang setia menunggu namanya rezeki dan jodoh, hihihi…

    miss you lotssss ladieeess….:*

  3. niken rosady says:

    akuuuu tauuuuuu😛

    *keep it as secret yaaa :p

    bagus sivaaa tulisannya.. perlu belajar setahun buat mencapai gaya tulisan begini lhooo..

  4. aulleaul says:

    perasaan yang sangat mendalam
    dituangkan di tulisan ini dengan indah dan agak satir
    great job siv

  5. erick azof says:

    wuihh..beautiful..🙂 ehm, bisa bikin cerita dongeng nih sepertinya..

  6. melly says:

    aku suka critanya!! bingung mau comment apa. Di saat hujan turun emang bisa melukiskan apa aja ya ka’🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: