Hari-hari si Pengajar Muda

Hari menjelang pergantian tahun. Gue bete. Entah kenapa perasaan gue campur aduk. Gak ada yang sengaja bikin kesel sih, tapi hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan prosedurnya rasanya seperti menuang cuka dalam luka, perih. Memang sudah waktunya hormon esterogen gue membuat berbagai macam efek samping.

Tiba-tiba gue ngerasa sendirian, disaat keluarga gue yang lain pada berkumpul. Gue berada jauh di seberang lautan. Gue, cewek yang hingga bangku kuliah nggak pernah jauh dari keluarga gue, sekarang harus menghadapi kenyataan mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan alm. Papa, abang gue yang tukang ngomel tapi tetep rajin bantuin gue, dan terutama Mama gue yang tau sekecil apapun kebutuhan gue. Tapi yasudah,  gue juga gak mau jadi cewe manja yang kerjanya meratapi nasib, biarpun hati ini menjerit, gue tetap ngerjain semuanya sendiri. Semuanya gue jadiin pembelajaran. Positifnya gue jadi tau beragam material di toko bangunan akibat ngurusin renovasi kecil rumah dinas mini gue. Kalau dulu, boro-boro mau tau, ngelirik juga nggak. Hahahaa… Lumayanlah buat bekal gue jadi Super Wife and Super Mom. *nyengir kuda*

Di tengah kegalauan gue yang nggak jelas kenapa, gue dijemput sama senior gue untuk ngerayain tahun baruan dirumah Manager gue. Dan semuanya berjalan menyenangkan, di lokasi rumah yang strategis, kita bisa melihat kembang api yang cantik dengan jelas. Makan berbagai hidangan BBQ yang luar biasa enak (soalnya gratis) hahahaa… Tapi ternyata gue masih galau, bok! Sampai-sampai nggak mau liat Time Line di Twitter, takut jadi sirik sama temen-temen gue yang ngerayain tahun baru dengan orang-orang terdekatnya. Walaupun yaa, perayaan taun baru sebenernya nggak tertulis di kamus gue, biasanya juga gue tidur, tapi entah kenapa pada kondisi saat itu tetep aja gue galau!

Sampai pada kemarin malam tepatnya pada tanggal 3 Januari 2012, di tengah hujan deras yang mengguyur kota Balikpapan, gue mendapat tamparan yang cukup hebat. Disaat salah satu teman kuliah gue yang salah seorang partisipan dari program Indonesia Mengajar yang biasa disebut dengan Pengajar Muda mengabari dirinya sedang berada di Balikpapan karena suatu urusan dan mengajak untuk bertemu. Namanya Deden Achmad Chaerudin. Gue kenal dia udah lama, tepatnya waktu gue kuliah dan gue ikut jadi panitia di salah satu acara musik Jazz yang ketuanya tidak lain tidak bukan yaa dia sendiri. Dia salah seorang penggila musik Jazz dan aktivis kampus dengan berbagai macam kegiatan. Kita seangkatan, tapi umurnya lebih sekitar tiga tahun dari gue. Dulu dia pernah kuliah di Universitas Indonesia tapi keluar karena nggak passion sama jurusannya. Hahaa.. gue kagum juga sama idealisme dia sebagai seorang laki-laki padahal banyak yang kontra dengan keputusannya saat itu, tapi dia tetap keras untuk menjalankan keputusannya. Keinginannya untuk mengejar mimpinya menurut gue luar biasa, bahkan big event Kampoeng Jazz di Unpad pun dia yang prakarsai (setelah tulisan ini di publish kemungkinan besar gue akan nuntut royalti dari dia karena udah promosi di blog gue)… bwahahaha… Intinya ni bocah emang bukan bocah biasa.

Akhirnya kita putuskan untuk sekedar “ngopi” di J.Co Balcony salah satu Mall yang menghadap ke laut di Balikpapan. Kulitnya menghitam terbakar matahari tapi senyum lebarnya sejak kuliah tidak berubah, masih humble seperti biasa. Dengan berbinar-binar dia menceritakan pengalamannya yang selama dua bulan ini menjadi seorang Pengajar Muda yang ditempatkan di Kabupaten Paser  lebih tepatnya lagi di daerah Long Kali (Nah lho… gue aja baru denger nama daerah ini pas dia cerita). Disela-sela ceritanya mengenai tempat dia tinggal dan seperti apa anak-anak disana, sesekali dia menunjukkan foto-foto dan video-video yang membuat gue menelan ludah setiap melihatnya. Bagaimana tidak? Seorang Deden yang biasanya hidup enak di kota besar harus tinggal di daerah terpencil, di sebuah rumah di tepi sungai yang cuma dapat aliran listrik jam 7 hingga jam 9 malam? Lebih buruknya lagi di era informasi seperti sekarang ini, daerah yang dia tempati itu susah sinyal! Jalan-jalan yang dia lalui hanya jalan setapak tanpa penerangan dengan hutan di kanan kirinya. Dan gue makin speechless saat mengetahui kalau kamar mandinya itu hanya terbuat dari kayu dan papan yang tersusun diatas sungai dan dibawahnya terdapat buaya mondar mandir (oh my God, gue bisa gila…). Rasanya malu sekali kemarin gue ngeluh karena closet kamar mandi di rumah dinas gue belum diganti dengan yang baru. Errhh… Tenggorokan gue kembali tercekat saat dia menunjukkan luka besar di kakinya hanya karena sering digigit nyamuk yang luar biasa besarnya saat pergi ke kamar mandi. Astagfirullah… kurang bersyukur apa lagi gue?

Belum cukup sampai disitu, gilanya lagi ternyata penduduk disana kekurangan air. Sehari-hari mereka makan, minum dan mencuci dari air sungai yang sama! Caranya? Airnya ditampung dan di endapkan dulu, baru dipakai. Ya Allah, gue aja suka protes kalau air mineral yang gue dapet bukan merek Aqua. Rasanya pengen nyubit-nyubit pipi gue sendiri sampai puas! Aaaaaaa…….

Deden bercerita bahwa anak-anak yang dia ajar tidak mempunyai mimpi (ternyata keadaan model film Laskar Pelangi benar-benar ada!) terutama untuk anak perempuan. Setelah lulus SD yang mereka pikirkan hanya menikah dan mengabdi kepada suaminya. Sampai-sampai mereka bertanya pada Deden, “Apa kami masih bisa dan boleh bermimpi?” Hati gue rasanya kayak di remes-remes menghadapi kenyataan bahwa gue memang masih jadi cewe manja yang belum bisa bermanfaat bagi orang lain.

Deden tidak berhenti tersenyum saat menceritakan pengalamannya mengabdi untuk masyarakat dan gue gak berhenti istigfar pas mendengar setiap ceritanya. Gue kagum akan dedikasinya terhadap negeri dan keteguhannya dalam mencapai apa yang dia inginkan dan dia cita-citakan. Dengan sabar dia mengajar anak-anak didiknya yang ternyata lebih sulit dari mengajar anak balita di kota besar. Untuk pergi ke sekolah dia harus menggunakan perahu, alternatif lainnya lewat jalan sempit yang masuk ke dalam hutan. Hadeehh, pilihannya kok ga ada yang enak yaa?

Program Pengajar Muda ini ternyata luar biasa menarik perhatian. Bahkan lulusan-lulusan S2 dari luar negeri turut menjadi pesertanya dan melalui tahap seleksi yang ketat. Hanya segelintir orang yang mampu lolos menjadi seorang Pengajar Muda dari ribuan peminatnya. Gue salut ternyata masih ada kepedulian anak bangsa walaupun sudah tidak tinggal di negeri sendiri. Dulu gue berharap jadi salah satunya sebelum gue diterima bekerja ditempat gue bekerja sekarang, tapi melihat kondisi yang dilalui oleh Deden, jujur aja, gue belum yakin gue sesiap itu untuk buang air dan mandi diatas kolam buaya. Hiiiyy….

Perbincangan kami malam itu membuat gue tersadar betapa manjanya gue dengan semua yang ada. Gue belum apa-apa, gue belum bisa jadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Dan terkadang gue sibuk memikirkan apa yang kurang dari diri gue daripada apa yang sudah Allah berikan pada gue. Semoga suatu saat gue bisa menjadi salah seorang yang mampu memberi manfaat kepada orang lain, tidak hanya untuk orang terdekat gue, tapi untuk seluruh bangsa Indonesia yang mungkin tidak tertangkap oleh indera pemerintah.

Aamiin.

P.S. Untuk Deden: Karena lo belum sempat nulis di blog lo sendiri, gue aja yang cerita duluan. Hahaha…

Sekian.

L o v e @chiripaaa

Comments
9 Responses to “Hari-hari si Pengajar Muda”
  1. erick azof says:

    Subhanallah, iya..Aku bangga dengan bangsa ini, masih ada pejuang-pejuang yang sedang membangun mimpi-mimpi anak2 bangsa..

    Salut untuk para pengajar muda baik dari Indonesia Mengajar maupun institusi lainnya, Tuhan tidak tidur..Ilmu yang diberikan, InshaAllah pahalanya tidak terputus sepanjang ilmu itu diamalkan oleh mereka..

    Nice posting shiva😉 two thumbs up for you and your friend..

  2. Edwin says:

    Deden GOKIL!!! Proud of him

  3. Dita says:

    Luar biasa banget Deden, semangat nya dari dulu untuk wujudin mimpi-mimpinya ngga pernah mati, insya Allah dia dimudahkan semua urusannya disana, Amiiinn.. Semangat buat Deden!

    Jadi malu gw kalau suka meributkan hal-hal kecil, atau mungkin belum memaknai esensi dari kata “bersyukur” jadi ada kerikil kecil suka ngedrop, haha… proses pendewasaan diri namanya nih..

    thank you bebeb, cerita ini mengingatkan buat memaknai arti BERSYUKUR..

    MISS U both…:)

    • Siva says:

      Iya beb, bersyukur itu semacam ikhlas. Gampang ngucapinnya tapi ternyata ngejalaninnya susah… Great experience is a great lecture beb….

      Miss you, too🙂

  4. aulleaul says:

    Rasanya pengen nyubit-nyubit pipi gue sendiri sampai puas! —–> Mau dong ikutan…hahaha
    Dan banyak orang ngelakuin ini tanpa ke-expose, tanpa pamrih, tanpa disuruh, dengan idealisme masing-masing, kalo emang belom bisa ngelakuin ya at least give them support, give others inspiration🙂

  5. Deden says:

    Siva, tulisan mu dengan gaya bahasa yang populer, substansinya mampu menggetarkan hati saya yang baca. Saya tahu Deden, saya kenal dia, cukup dekat, kita sama-sama di BEM FH Unpad dulu, saya dua tahun di atasnya, nama panggilan saya juga Deden. Saya mengenalnya seorang yang tidak pernah mengeluh dan selalu fokus pada tujuan, bagaimanapun cara yg dia lalui.

    Memang betul kata Siva, kebanyakan manusia sebenarnya tidak banyak bersyukur, setidaknya juga itu untuk saya sendiri. Kita selalu melihat pada “yang di atas” dalam segala aspek. Padahal untuk menghaluskan hati dan mempertamkan akal budi, kita bisa lihat dan bahkan mengalaminya sendiri atas peristiwa orang-orang yang keberuntungannya “di bawah” kita. Pelajaran yang berharga itu adalah ketika kita bisa menyadari apa yang kita pelajari, dari pengalaman orang lain maupun pengalaman pribadi.

    Apa yang Deden tempuh sangat tidak lazim dari kebanyakan orang seusianya, seusia saya, bahkan seusia yang mungkin telah menganggap dirinya “dewasa”. Membaca tulisanmu, dan terutama kemauan Deden untuk mengabdi, saya semakin sadar bahwa apa yang dicari itu adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan bukan berkaitan dengan apa yang dimiliki, tetapi apa yang dirasakan. Rasa yang paling bahagia, sebagaimana Siva tulis dalam salah satu judul di Blog ini, adalah ketika kita bisa dengan tulus berbagi. Berbahagia dengan berbagi.

    Salam kenal Siva. Tulisanmu luar biasa. Teruslah menginspirasi dengan tulisan. Tulisan bisa menyampaikan sejuta pesan.

    -Deden-
    Melb.

    • Siva says:

      Terimakasih atas komennya Kang Deden. Kita pernah kenal bukannya? Akang ketua BEM bukan dulu? hehehee….

      InsyaAllah saya akan terus menulis kang… Terima kasih jg untuk supportnya yaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: