Keluar dari Kotak

Selalu menyenangkan apabila berbicara dan berdiskusi dengan orang-orang yang pemikirannya “keluar dari kotak” atau kerennya sih sih disebut out of the box, berkarakter, dan berwawasan luas. Terkadang kepintaran itu tidak sejalan dengan kecerdasan seseorang berpikir. Berpikir dalam taraf comfort zone ibaratnya seperti telur yang tak pernah menetas dan tersesat dalam “limbo” (better watch Inception if you don’t know what it means) yang sulit untuk keluar. Kalau hanya pintar, kamu mungkin cuma bisa jadi followers yang mengikuti perintah orang-orang cerdas. So, jangan sombong dengan IPK nyaris sempurna, it’s nothing kalau tidak bisa menggunakan kepintaran itu dengan attitude dan cara berpikir empat dimensi yang mampu melihat dari berbagai sudut pandang, being smart not only something that written at the text book. Ok?

Saat ini, comfort zone sebenarnya merupakan salah satu musuh yang jahat dalam suatu idealisme ataupun dalam pencapaian kesuksesan. Tidak banyak orang yang berani mengambil resiko untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Hanya orang-orang yang mempunyai pribadi dan idealisme yang kuat yang mampu melesat jauh kedepan untuk mencapai kesuksesan. Orang yang mencapai sukses dengan cara out of the box kita sebut saja pencipta Facebook yaitu Mark Zuckerberg yang pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari Harvard University dan mengembangkan jaringan sosial ciptaannya dengan nama The Facebook dan kemudian menjadi Facebook yang baru saja merayakan satu milyar penggunanya. Saat ini dia adalah Milyarder termuda karena idenya yang dianggap cemerlang. Padahal awalnya dia hanya dianggap sebelah mata oleh lingkungan kampusnya bahkan oleh gadis yang dicintainya (kasian yaa…). Dan sekarang, perusahaan sebesar Google saja yang lebih dulu terkenal harus memutar otak untuk membuat Google+ sebagai tandingan.  Well, ternyata satu-satunya hal yang membuat dia tidak percaya diri adalah masalah wanita, bersyukurlah kaum hawa karena kelemahan pria terbesar mayoritas masih pada titik ini. Hahahaa….

Contoh lain adalah Steve Jobs, dia hanya mengikuti satu semester di Reed College, Portland. Bahkan saat berbeda pendapat, dia sempat dikeluarkan dari Apple oleh atasannya. Sebelum akhirnya di rekrut kembali karena mungkin komposisi isi kepala Steve Jobs tidak jauh berbeda dari komposisi isi kepala seorang Albert Einstein.

Sebelum mencela pendapat seseorang yang berbeda dari mayoritas lebih baik cerna dulu apa yang dia katakan. Better be silent for a while and be a good listener, karena siapa tau dia adalah seseorang yang dengan IQ dan EQ melebihi kapasitas otak mu sehingga mampu berpikir layaknya seorang detektif, mengeliminasi semua yang paling tidak mungkin menjadi mungkin, serta menyimpulkan yang paling baik diantara yang baik. Kecerdasan seseorang dalam berpikir dapat dinilai dari bagaimana orang tersebut menggambarkan masa depannya. Untuk para wanita, nikahilah pria-pria cerdas, karena pria-pria cerdas akan melahirkan generasi-generasi bintang dan tidak akan bingung untuk menjawab “Mau dibawa kemana hubungan kita?” Bleeehh…

Saya bukannya ingin membuat galau buat para wanita yang sedang menunggu kekasihnya untuk melamar. Tapi seorang  pria yang berkarakter, cerdas, dan benar-benar mencintai kekasihnya, tidak akan ragu untuk beranjak ke tingkat yang stratanya lebih tinggi dari sekedar pacaran. Pendapat ini akurat karena saya sudah biasa jadi “tempat sampah” berbagai jenis dan spesies manusia. Alasan “belum mapan” dan “Ingin mengejar karir” itu cuma tameng untuk mengulur waktu memantapkan hati saja. Intinya sih masih ragu dan berkutat dengan pertanyaan: “Lo tuh yang terbaik buat gue atau bukan sih?” Hahahaa…. Kalau bukan karena hal yang barusan saya sebutkan, pilihan lainnya adalah pasangan lo adalah seseorang yang takut untuk berkomitmen alias cupu. Silahkan buktikan keakuratannya. So Ladies, hope for the best and prepare for the worst, ok?

Intinya sih mempunyai karakter itu perlu, menjadi diri sendiri itu wajib, dan mengejar passion itu semacam salah satu kunci untuk mencapai work-life balanced sehingga mencapai kepuasan dan kebahagiaan sebagai seorang “Muggle” (ehm… maksud saya “manusia”). Jangan menutup pintu pengetahuan sebatas yang tertulis dalam buku atau lembar perlembar file di kantor. Karena Tuhan tidak menciptakan dunia ini hanya satu warna tetapi ribuan warna sehingga jembatan pelangi untuk berpikir tidak hanya satu, tetapi ribuan jalan, dan dari ribuan jalan itu, pilihan yang terbaik berada ditangan orang-orang cerdas. Cerdas atau tidak itu pilihan dan pilihan itu selalu ada ditangan setiap individu yang berpikir. At the end, sukses itu berada ditangan orang-orang cerdas yang mau keluar dari kotak bernama “Comfort Zone”.

L o v e @chiripaaa

Comments
One Response to “Keluar dari Kotak”
  1. aulleaul says:

    hahaha Inception (2010) yeee…
    Jadi berada di comfort zone berarti sama aja di dalem limbo gitu siv?
    wow😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: