“Bunga Bangkai” dalam Pencitraan

Hari-hari yang saya jalani saat ini terkadang seperti delusi di siang hari dan tumpukan slide show mengenai “Ethics 247 (24 hours and 7 days)” yaitu bagaimana menerapkan etika yang baik selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu terkait dengan adanya sosialisasi penerapan Good Corporate Governance di kantor saya. Saya harus meng-update penerapannya dalam bentuk slide show setiap minggu untuk ditampilkan hampir di setiap rapat Tim Manajemen, yang notabene hasilnya mungkin tidak langsung memberi efek menahun pada si penerima persentasi. Kenapa? Yah, karena efek domino feodalisme zaman baheula masih sedikit terasa. Walaupun tidak banyak yang masih mempunyai sikap demikian. Jujur saja saya bersyukur mendapat penempatan di unit tempat saya bekerja saat ini, karena cukup jauh dari hingar-bingar polusi kota besar yang berefek-samping penuaan dini karena kapasitas otak mereka yang tinggal disana rata-rata hanya berisi bagaimana cara mereka menaikkan dagu mereka setinggi mungkin. Yeah, meski saya tau suatu saat saya akan kembali kesana karena menyadari horcrux yang menjadi kepingan-kepingan jiwa saya tersebar disana.

Saat ini saya melihat makin banyaknya orang yang tidak hanya haus dengan materi tapi juga gila akan pengakuan dan penghormatan. Demi mendapatkan suatu pengakuan, seseorang rentan sekali menjatuhkan harga diri orang lain di depan publik. Mereka bertindak seperti pahlawan kesiangan membanggakan diri mereka sendiri dan tidak segan-segan membuka aib orang lain dengan dalih transparansi dalam memberikan informasi. Penyakit gila hormat ini merupakan virus yang sepertinya akan menjadi sumber malapetaka bagi kalangan intelektualis yang merasa dirinya pintar namun mempunyai attitude setingkat anak TK yang suka cari perhatian dengan berbuat nakal. Terutama untuk publik figur yang saat ini menjadikan penciptaan sensasi merupakan salah satu hobi mereka. Diantara mereka, ada yang merasa keluarganya paling sempurna, anaknya paling pintar, dirinya yang paling intelek karena gelar yang ia miliki, dan mereka mempromosikan diri mereka dengan membanding-bandingkan ketidakmampuan orang lain dengan hal-hal yang telah mereka capai disertai menjelek-jelekan “lawan” mereka dengan membuka aibnya satu persatu. Lebih buruknya lagi sikap-sikap yang sewajarnya hanya orang terdekat yang tau malah dipublikasikan di media sosial via Blog, Facebook, dan kicauan di Twitter. Sepertinya doktrin yang terinjeksi pada pembuluh darah mereka adalah semakin terbuka aib semakin tinggilah popularitas mereka dan semakin mudah mereka mendapatkan suara untuk mencapai posisi tertinggi dalam struktur organisasi. Sebuah doktrin yang pelan-pelan berubah menjadi kanker ganas dalam sendi-sendi pemerintahan Indonesia. Karena doktrin tersebut ternyata tidak hanya dimiliki oleh publik figur saja akan tetapi juga para wakil rakyat yang merasa dirinya “pintar”.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat”. (QS: An Nuur: 19)

Mengerikan? Tentu saja. Bayangkan apabila di negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak hanya haus akan harta dan tahta, tetapi juga orang yang ingin dirinya selalu disanjung dan dihormati. Tidak ada lagi keramah-tamahan dalam bertindak, isinya hanya penuh kenyiyiran seperti yang sering di kicaukan via twitter karena tidak berani bicara face-to-face dengan orang yang disindir. Atau sekalian saja menjadi Jenderal terdepan dalam Twit-war mungkin Anda akan terlihat lebih gentle. Dan karena hobi masyarakat indonesia yang suka bergunjing tentu saja akan mudah masuk ke dalam World Trending Topic. Kalau sampai pada tahap itu saya hanya bisa tertawa, karena sesungguhnya orang yang paling layak dikasihani adalah orang-orang seperti Anda.

Karena itu, pendidikan sebaiknya tidak menekankan pada text book saja. Tidak hanya memberi makan IQ tapi juga EQ. Pembelajaran dengan cara modern tidak hanya duduk didalam kelas, tapi sebaiknya dengan format berdiskusi disertai pembelajaran bagaimana cara menyampaikan pendapat dan hasil pemikiran secara baik dan pantas. Setidaknya hal kecil yang dikatakan oleh salah seorang teman saya yang menjadi Pengajar Muda akan teringat terus di kepala saya.

Tahap selanjutnya untuk mengubah paradigma masyarakat tentang cara memperoleh popularitas memang tidak mudah dan memulai dari diri sendiri terlihat lebih simpel. Yang merasa mempunyai indikator haus penghormatan, lebih seringlah bercermin untuk mengingatkan diri. Pencitraan akan tumbuh dengan baik menjadi bunga mawar yang indah dan harum seiring dengan hal positif yang Anda lakukan. Sebaliknya pencitraan juga akan tumbuh menjadi bunga bangkai yang berbau busuk apabila diiringi dengan buruknya Anda bersikap. So, beware before it’s too late…

L o v e @chiripaaa

Comments
3 Responses to ““Bunga Bangkai” dalam Pencitraan”
  1. Beneerrrr bangetttt shivaaaa…..
    NTMS, ga taunya aku seperti itu juga🙂 hohohohohohoho

  2. aulleaul says:

    siva… I love you..
    kyaaa kyaa
    ini bagus banget kata-katanya: “…karena menyadari horcrux yang menjadi kepingan-kepingan jiwa saya tersebar disana.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: