#Lesson Learned : IKHLAS

Badai esterogen menyerang saya begitu hebat beberapa hari ini. Badan terasa remuk redam dan emosi bagai ombak berkejaran berlomba-lomba menyentuh bibir pantai terlebih dahulu. Ini gila. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Dan benar saja si bulan datang lebih cepat daripada seharusnya. Rasanya sulit membuat air pada pelupuk mata ini untuk tidak tergenang dan jatuh disaat yang tepat.

Psstt… tapi ternyata tidak tuh. Saya tidak berteriak, saya tersenyum, dan bahkan tertawa. Awalnya saya kira saya mulai tidak waras, tapi tidak juga. Ternyata saya memang mampu mengenakan Topeng Kaca itu dengan baik. Dan saya tau tingkat kedewasaan saya sedang diuji untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Memang benar kita tidak boleh benar-benar mencintai sesuatu atau benar-benar menjadikan sesuatu itu adalah suatu kelemahan. Kita harus belajar menerima sesuatu yang tidak kita sukai dan belajar untuk tidak terlalu mencintai sesuatu yang kita sukai. Nah, konteks tidak berlebih-lebihan ini semacam imunisasi dini sehingga upaya preventif dapat diambil untuk langkah pertama proses kesembuhan dalam kekecewaan.

Saya itu si bungsu yang mungkin terlihat seperti anak kecil. Tapi tidak kok, saya bisa melindungi diri saya dan mampu mengurus keperluan diri saya sendiri. Yah, walaupun sepertinya kontradiktif, saya memang menyukai perasaan terlindungi. Hehe… Oke, memang poin tulisan saya kali ini bukan pada titik ini. Tapi mengenai perasaan perlakuan tidak adil yang baru saya rasakan. Sebenarnya sih masalah kecil, tapi mungkin hentakan hormon feminisme menekan urat syaraf saya dan membuat ruh saya sedikit berteriak. Bagaimana tidak, setelah lelah melakukan sesuatu, tapi hal tersebut sepertinya tidak di apresiasi oleh lingkungan sekitar. Entah saya yang lagi terlalu sensitif atau bagaimana saya tidak paham, tapi saya tetap mencoba untuk memahaminya

Semakin dewasa, seorang perempuan dituntut untuk memiliki kedewasaan sehingga pantas menjadi seorang ibu yang melahirkan generasi-generasi gemilang. Keikhlasan yang dimiliki seorang ibu memang luar biasa, karena bersedia menanggung kehidupan lain yang selama 9 bulan seperti parasit di dalam tubuhnya. Tingkat keikhlasan itu yang mungkin sedang saya capai tingkatannya dalam hidup saya. Ujian yang Allah berikan kepada saya saat ini adalah untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas tanpa mengharapkan penghargaan atau balasan dari orang lain. Seperti berniat untuk beribadah, semua karena Allah, masalah bagaimana Allah membalasnya biarlah itu menjadi rahasia Allah. Ngapain juga capek-capek ngitungin, toh tidak akan bisa?

Pelajaran untuk melakukan sesuatu yang baik dan untuk mengharapkan ridha Allah itu memang jauh lebih sulit dari pada bersyukur dan mengeluh. Tapi saya menyadari perlahan doktrin tersebut harus dimasukkan ke dalam serum kekebalan tubuh saya dan sejauh ini sepertinya berjalan dengan baik. Walaupun genangan air di pelupuk mata ini sudah hampir melebihi volume tanggul seharusnya, tapi sejauh ini tidak sampai tumpah ruah. Saya masih bisa tersenyum dan tertawa, walaupun pada saat dirumah, kekesalan saya tumpahkan di hadapan boneka-boneka saya di tempat tidur. Hahahaa…

Syukurnya saya mempunyai kakak laki-laki yang walaupun gayanya sok keren tapi kadang-kadang kata-katanya berbobot juga, hahahaha… Dia mengatakan:

“Dalam setiap kejadian itu sudah diatur sekenarionya oleh Allah. Setiap masalah yang Allah berikan dan setiap orang yang Allah kirimkan untuk kenal dengan kita adalah untuk mengingatkan dan mengajarkan kita sesuatu.”

Dan dalam konteks ini, saya diajari untuk: IKHLAS dalam apapun yang saya lakukan.

Benar saja. Setelah level keikhlasan ini mampu saya raih dan dapatkan. Saya bahagia. Tidak ada penyesalan berkelanjutan. Bahagia itu ternyata memang sederhana teman-teman.

Berusaha – ikhlas – bersyukur.

L o v e @chiripaaa

Comments
3 Responses to “#Lesson Learned : IKHLAS”
  1. dinie says:

    ikhlas itu kadangkala ringan di lidah berat di langkah…

    seorang teman berkata:

    Ikhlas itu rasa yang tersembunyi. Hanya diketahui antara manusia dan Rabbnya saja. Saking tersembunyinya, diumpamakan malaikat tiada kuasa mencatat, dan syaithon tak berdaya memerangkap..

    Semoga kita istiqomah dalam keikhlasan😀

    • Siva says:

      Iyaa Mbak Dinie.. Memang ringan di lidah berat di langkah… Semoga setiap hal-hal yang kita lakukan dalam hidup kita selalu ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah.

      Aamiin.🙂

  2. irvan says:

    izin save image-nya,,😀
    syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: