Puteri Hujan dan Kesatria

Cuaca hari ini mendung lagi. Sang Puteri sedang merajut awan putih.

Satu senti. Dua senti. Tiga senti.

Membentuk selimut putih untuk menutupi awan kelabu.

Matahari memantulkan tirai aurora di utara. Berusaha menghibur sang Puteri yang sedikit lelah, namun berusaha tetap tersenyum.

Mata air di taman Nirwana nyaris kering. Puteri Hujan tak kunjung membuat hujan. Sebenarnya merindukan pelangi, tapi tak ingin merasakan hujan. Semacam alter-ego dalam kesesatan musim panas.

Ada kerinduan paling menyesakkan yang tak kunjung bersahabat dengan pendulum waktu. Memecah sekawanan metafora dalam kedamaian hati sang Puteri. Ia menanti Kesatrianya, namun terlalu malu untuk berujar peluh. Karena lebih mudah bersembunyi di balik awan dan menunggu ditemukan. Seperti bermain petak umpet hingga hitungan tak terhingga.

“Kesatria? Kamu dimana?” sang Puteri bergumam.

Hanya angin yang mampu mendengar bisikannya. Membawanya pergi dengan kerinduan yang tertinggal.

Kesatria berdiri dengan pundi keangkuhannya. Menggenggam erat pedang langit seolah jagat raya tunduk padanya. Ia merasa lebih baik menenggak senyawa arsenik dari pada terlihat sepi. Tapi dia tetap Kesatria, yang membuat Puteri Hujan tergila-gila. Yang menghapus batas kebencian menjadi cinta.

Zeus tertawa. Rasanya memang tak semudah memerintahkan Peri Angin menerbangkan bunga Dandelion. Dan bingkai takdir memang tak semudah itu ditelusuri. Jika rumus phytagoras dapat menemukan x yang sebelumnya tak ditemukan, mungkinkah Kesatria dan Puteri Hujan dapat menemukan jalan  untuk mereka bertemu kembali?

Seolah menyatukan dua dunia yang berbeda.

Seolah menyatukan musim dingin dan musim semi.

Seolah merindukan fatamorgana dalam gersangnya gurun pasir.

Seolah menelusuri labirin dalam dimensi yang berbeda.

Namun, Sang Puteri ingin sekali bertemu.  Dalam kerinduan yang memuncak. Puteri hujan akhirnya menurunkan rintik hujan perlahan dan terus menerus. Sekedar memberi tahu Kesatria, bahwa dia ada. Kesatria kembali meyakinkan dirinya bahwa ia mampu sendiri. Walaupun jauh dalam relung hati ada sesuatu yang ia rindukan.

Tik… tik… tikk….

Perlahan rintik hujan menipiskan jurang keangkuhan dalam hati Kesatria.

Puteri Hujan menyanyikan puisi yang sejak lama ia tulis dalam rintik hujan yang menari. Berharap Kesatria mendengar nyanyiannya. Kemudian merindukan suaranya. Dan merengkuhnya dibawah hujan.

Kesatria mulai tak mengerti dengan perasaannya. Dalam rintik hujan yang terdengar seperti ayat-ayat rindu yang semakin menusuk. Ia ingin menyentuh langit, bertemu lagi dengan sang Puteri Hujan. Mengajaknya berdansa dalam taman Nirwana.

Kesatria melawan keangkuhannya dan menembus awan menemui Puteri Hujan. Kemudian menggenggam tangan sang Puteri. Memeluknya erat.

“Puteri, jika memang dunia ini hanya berisi keangkuhanku. Berilah aku kelembutan dalam sentuhan melodi hujanmu.  Jika memang pedang langit ini simbol kerasnya hatiku, ukirlah dengan puisi cintamu agar aku selalu ingat untuk menjadi Kesatria yang lembut. Dan jika memang separuh hidupku telah kujalani tanpa melihatmu, biarkan aku menghabiskan sisa hidupku untuk membuatmu tersenyum.”

Puteri Hujan melihat pelangi yang mengintip malu dari balik awan. Mengembangkan senyumnya penuh cinta. Mimpinya menjadi nyata. Kesatrianya benar-benar telah kembali. Rintik hujan perlahan meruntuhkan kerasnya pilar-pilar keangkuhan dalam hatinya.

“Untuk mencapai hal-hal besar, bukan hanya harus bertindak, tetapi juga bermimpi. Bukan hanya rencana, tetapi percaya.”

L o v e @chiripaaa

Comments
2 Responses to “Puteri Hujan dan Kesatria”
  1. erick azof says:

    Aku sukaaa..lembut tulisannyaa seperti awan putihh..

    “Puteri hujan, engkau dimana ?”
    “Aku disini, disekitarmu..”
    Hujanpun turun membasahi bumi beserta kesatria tersebut..

    *Uncut version erick azof :p

    Dan ini sekian tulisan lu yg berkaitan dengan hujan..hhehe, semoga pelanginya segera tiba ya…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: