Bercerita diantara Syair Gibran

“… sesuatu yang paling pahit dalam penderitaan di masa kini kita adalah ingatan tentang masa lalu kita yang bahagia…”

tanpa sengaja kata-kata itu muncul dari deretan kalimat di dalam buku yang kubaca sebelum ini…
rasanya… tiba-tiba merasa seperti anomali…
tidak, aku tidak sedang berjalan di atas air…
hanya ditumpukan labirin hijau…
dan aku sudah meminum sedikit Felix Felicis yang kucuri dari lemari profesor bertampang seram itu…
sekaligus menguji keberuntunganku sebenarnya…

how dare am I?
ok, forget it, thats not the point…

hanya ingin sedikit bercerita…
[smentara aku berpikir dan berjalan menelusuri labirin ini, beringsut mencari jalan keluar]

… dan orang itu, salah satu yg menjadi topik ceritaku…yeaah… untungnya dia sedang tidak berada dalam kawasan peta perampok, dan tidak berada dalam wilayah kekuasaan vampir… karena jika tidak, mungkin dia akan mengetahui apa yg kulakukan… instingnya cukup tajam seperti tatapannya bila melihatku… Grrr…

Seandainya saja Adam dan Hawa tidak memakan buah sialan itu tentu saja aku tidak akan bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini…
Seandainya saja peramal Nostradamus masih ada, aku tidak akan bertanya kapan dunia akan berakhir tetapi, mengapa aku disini? untuk apa? dan untuk siapa?
yaah terlalu banyak pertanyaan aneh memang, aku bisa membayangkan bila aku bertanya hal yang sama kepada Alice Cullen pasti dia akan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk membeli berbagai macam pakaian dibandingkan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodohku…

…dan tentu saja aku tahu Tuhan tidak suka orang-orang yang memasukkan kata “seandainya” dalam kamus hidup mereka… (aku meminta sedikit pengecualian untuk ini, dan berniat memohon ampun sesudahnya -__-“)

[aku berhenti sejenak untuk membersihkan spatuku dari lumpur yang baru saja kulewati]

aku mulai berpikir tentang hal-hal yang telah berlalu…
aku tak perlu setua Miss Marple untuk mengetahui banyak hal… tapi sepertinya aku membutuhkan seseorang untuk memberitahuku :“Sekarang bagaimana kita sanggup melukiskan masa lampau itu dalam kehidupan kita hanya dengan suara-suara masa lalu kita?”

Jika kalian pernah membaca salah satu buku karya Kahlil Gibran kalian akan menemukan pertanyaan itu di salah satu bait syairnya dan aku memang memasukkan beberapa bait syairnya dalam ceritaku.
Ia seorang pujangga hebat yang sangat kukagumi…

Bukan berarti aku tak mengagumi Shakespeare, tentu saja menurutku ia juga pria paling romantis sejagat raya.. tapi aku tidak terlalu menyukai karya legendarisnya yang berjudul Romeo dan Juliet karena satu alasan bodoh : akhir yang tidak bahagia! hal yang memang sepertinya mendekati kenyataan dibandingkan mimpi yang sempurna… karena aku pernah mendengar orang mengatakan :

“tidak semua cinta berakhir dengan bahagia”

Grrr.. terus terang aku sangat tidak menyukai pernyataan itu!
Karena buat ku pernyataan itu hanya membuat aura positif yang mendengarnya berkurang…
Bagaimana kita bisa mendapatkan akhir yg bahagia apabila kita tidak yakin untuk mendapatkannya?

[aku menatap langit yang sudah mulai kemerahan sambil melanjutkan perjalananku… gaun putih bermotif bunga2 cokelat selututku yang pernah kupakai saat bertemu dengannya sedikit robek karena tersangkut dahan yang bercabang]

sepertinya pikiranku sudah berkelana kemana2… untung saja tidak sampai menjelajahi kisah roman picisan pada abad pertengahan yang pernah kubaca… aku merasa lebih baik jika aku memikirkan kisah Cinderella, Alice in Wonderland, atau Hansel and Gretel karena dengan begitu aku berharap akan menemukan keajaiban-keajaiban kecil ditengah perjalananku entah bertemu ibu peri, kelinci ajaib, atau mungkin rumah kue…

“dasar bodoh” gumamku tiba2…
entah mengapa mengumpat justru lebih mudah di bandingkan dengan membuat kesepakatan pada diri sendiri… setiap kata yang terucap hanya seperti buangan remah-remah yang jatuh dari pesta pora alam pikiran…

tidak akan pernah mendengar jika hati tidak ingin mendengar…
dan sejauh mana irama itu berdendang dalam kesunyian… sejauh itu pula akan selalu terasa tuli…
percaya atau tidak,

Seringkali kita meminjam masa depan kita untuk membayar hutang masa lalu kita…

[langit jingga membuatku teringat percakapan musim panas beberapa tahun lalu… yang memperdebatkan warna oranye atau ungu sebagai “jingga”…]

lalu tiba-tiba teringat salah satu bait syair Kahlil Gibran lagi :

“Jika hatimu adalah lava membara, bagaimana engkau bisa meminta bunga untuk merekah di tanganmu?”

aku tersenyum kecil…

rasa lelah mulai terasa dalam tubuhku…
aku mulai enggan berjalan…

tapi maaf…
bukan berarti aku menyerah menemukan jalan keluar…

karena keberanianku jauh lebih besar daripada yang kau tau…

lalu aku mulai berjalan lagi…
dan kemudian kembali bercerita…

Comments
2 Responses to “Bercerita diantara Syair Gibran”
  1. aulleaul says:

    deep banget ceritanya
    alunan kata-katanya
    poin-poin yang dipertebal
    great works, eh

  2. melly says:

    aaw aawwww…. kata-katanya amazing!! ◕‿ ◕ *jadi ngaca pada diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: