Cubicle

TIba-tiba gue ngerasa absurd. Kayaknya ada semacam passion yang hilang dalam hidup gue. Sekarang gue lagi duduk di kantor dengan monitor LCD sebesar 17″ dihadapan gue, satu telepon, dan beberapa post note yang menempel pada cubicle tempat gue kerja. Gak ketinggalan salah satu boneka kesayangan gue yang gue kasih nama Bongci. Nih boneka emang mukanya lebih dongo dari ikan kembung, warnanya putih, matanya melotot dengan mulut yang membentuk huruf “O” berwarna pink. Gue kurang paham nih boneka dari terinspirasi dari jenis hewan apaan, antara kelinci, tikus ato kucing? Pokoknya dia pemberian salah satu sahabat gue si Bongky makanya gue kasih nama Bongci yang artinya Bongky+Cipa. Huhueuehe… Yang jelas dia selalu setia menemani gue kerja disaat suka maupun duka.

Balik lagi ke inti permasalahan. Karena faktor khayalan tingkat tinggi gue, gue ngerasa hidup gue harusnya gak stuck di cubicle ini. Seringkali terbayang dalam kepala gue kalau gue adalah seorang pemeran utama perempuan dalam film-film fiksi atau science fiction. Entah gue jadi Hermione Granger si cantik yang kecerdasannya membantu Harry Potter, even dia sempat salah membuat ramuan Polyjuice dan membuat dirinya menjadi seekor kucing. Jadi Alice in Wonderland yang kayaknya sih gue bakal jatuh cinta sama Mad Hatter karena diperanin sama si sexy Johnny Depp. Atau jadi Miss Pepper Potts, perempuan anggun dan pintar yang dicintai si bengal Tony Starks dalam film Iron Man. Lebih gilanya lagi, kadang gue membayangkan menjadi Miss Marple salah satu tokoh Detektif di buku karangan Agatha Christie, yang gak gue suka adalah Miss Marple ini adalah perawan tua, gue rasa tak ada satupun laki-laki yang sanggup merayunya, karena pikirannya yang terlalu realistis. Ok, ini mengerikan, gue tarik kata-kata gue yang pengen jadi Miss Marple. Karena gue jauh lebih pengen jadi wanita idaman Shinichi Kudo dan Kaitou Kid di Detektif Conan.

Dulu disaat anak-anak seumuran 6 tahun ingin jadi dokter, gue malah pengen jadi Arkeolog. Karena menurut gue jadi Arkeolog itu keren. Dia bisa melihat dunia dari berbagai sisi kehidupan. Berpetualang menjelajahi bumi dan mengetahui bagaimana kehidupan ini bermula. Gue pengen tahu bagaimana Meganthropus Paleojavanicus mampu struggle untuk hidup. Apakah Artefak pada zaman Megalitikum juga  digunakan sebagai mas kawin dalam pernikahan? Lebih menariknya lagi, gue pengen mencari bukti untuk mematahkan Teori Evolusi Darwin. Semakin tertarik untuk tau mengenai hal ini ketika gue membaca tulisan Harun Yahya mengenai “Hakikat Teori Evolusi Darwin: Perang Terhadap Agama”. Well, hidup gue pasti bakal seru banget kalau bisa, yaah… keluar dari cubicle ini.

Gue tetep bersyukur ada disini, ngelakuin kerjaan yang emang bidang gue dan seru juga sih. Tapi gue masih pengen ngelakuin hal lain, gak cuma duduk manis dan analisis kasus ini dan itu.  I enjoy to do it, but I believe I can do more than I do now. Semoga jendela itu terbuka, berhadapan dengan masyarakat, membaur dalam kebudayaan dan melukis sejarah. Dan berharap ada makhluk secerdas Sherlock Holmes dan setampan dr. Watson buat nemenin gue berpetualang. Hehee…

L o v e @chiripaaa

Comments
One Response to “Cubicle”
  1. aulleaul says:

    Hermione ngga salah bikin ramuan, dia cuma salah duga, dia pikir bulu yang dia ambil itu bulu manusia, taunya bulu kucing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: