“Lumière dans le ciel de l’Europe”, 99 Cahaya di Langit Eropa

Monalisa by Leonardo da Vinci

Kali ini khayalanku terlepas mengangkasa. Dua jam perjalanan dengan pesawat yang biasanya kuisi dengan separuh tertidur dan separuh lagi mendengarkan musik kali ini kuisi dengan membaca buku. Buku yang amat menarik bagiku: “99 Cahaya di Langit Eropa”. Buku karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya bernama Rangga Almahendra benar-benar menghipnotisku. Setiap jejak dalam bab yang dituliskannya membuatku merinding, membuatku semakin mencintai keindahan agamaku, islam. Aku makin tertarik untuk mengetahui sejarah lebih dalam lagi. Kali ini bukan sejarah mengenai  Teori Evolusi Darwin atau apakah Dinosaurus benar-benar ada. Tapi aku tertarik untuk mengetahui bagaimana peradaban islam bermula. Mengapa Mustafa Kemal Pasha pada akhirnya dianggap pembunuh paling keji oleh masyarakat Austria? Bagaimana Napoleon Bonaparte memeluk islam? Bagaimana bisa tulisan lafaz “Laa ila ha illallah” tertulis  dalam huruf Arab Pseudo-Kufic di dalam hijab lukisan Bunda Maria yang terletak di Musium Louvre Paris. Dadaku bergemuruh, “Paris isn’t all about Monalisa. It was more than that!” .

Sebelumnya, aku yang hobi untuk menonton drama seri Jepang dan Korea, ingin sekali mengunjungi negara tersebut. Walaupun dalam hati ini bertanya-tanya apakah yang aku cari disana? Sekedar berjalan-jalankah? Toh aku tidak akan pernah menemukan tokoh yang aku idolakan disana. Atau aku hanya terobsesi dengan khayalanku tentang sosok pemeran utama pria yang karakternya rata-rata mungkin hampir mendekati karakter pria idaman setiap wanita? Oh no, aku sadar aku sudah tidak ABG lagi. Dan aku yakin Allah telah menyediakan sesosok pria yang lebih keren daripada tokoh yang selama ini aku idolakan. Seorang pria soleh yang akan menjadi imamku kelak. Aamiin.

Aku terpaku, aku merasa ada yang kurang, sepertinya aku bisa melakukan perjalanan yang lebih berarti lagi, yaah, walaupun negara-negara itu juga mungkin ingin kudatangi sewaktu-waktu. Tapi saat ini, dalam top list perjalananku setelah mengunjungi tanah suci adalah: EROPA.

Musee du Louvre

Aku teringat kata-kata Bung Karno dengan selogannya “Jasmerah” kependekan dari “Jangan Pernah Meninggalkan Sejarah” serta kata-kata George Santayana yaitu: “Those Who don’t learn from history are doomed to repeat it.” Siapa yang tidak belajar dari sejarah, akan mengulanginya kembali. Aku juga mengutip sedikit kata-kata dari dalam buku ini, bahwa diantara umat islam kini banyak sekali yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tau bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 (dua) kali lebih besar daripada wilayah Kekasiaran Roma dibawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tau pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin Reneissance bagi kemajuan Eropa. Cordoba, ibukota kehalifahan islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London iri hati.

Aku menjadi semakin ingin kesana. Semakin ingin mengetahui dan melihat langsung apa yang dituliskan di dalam buku ini. Manusia sebagai khalifah di bumi melukiskan sejarah mereka sendiri-sendiri. Terkadang timbul dalam benakku bagaimana aku bisa melukis sejarah? Aku ingin sekali berbuat sesuatu yang berarti. Namun hal itu dijawab dengan begitu simpelnya dalam buku ini, dari seorang tokoh bernama Fatma. Dia selalu tersenyum, walaupun ada orang Nasrani yang mengolok-olok agamanya, ia bahkan membayari mereka makan. Ia mengajarkan kelembutan dalam islam. Mengajarkan keindahan yang diajarkan oleh agamanya. Sesederhana itu, namun aku yakin malaikat sudah mencatat amal dan tingkah laku yang baik dari perempuan berkebangsaan Turki ini. Dan dia sudah mengukirkan sejarah yang indah dalam hidupnya.

Seketika aku malu dengan sikapku yang masih kekanak-kanakan, terkadang masih suka ngambek dan terpancing emosi. Aku jadi ingin menjadi wanita yang penuh kelembutan dan anggun seperti Fatma. Seorang muslimah sejati yang dapat menjadi contoh muslimah lainnya. Walaupun  sepertinya hal itu akan melalui proses yang cukup panjang. Hehehee…

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaannya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.

Akhir kata, terima kasih Hanum dan Rangga, atas cerita yang begitu berharga. Kelak aku akan menuliskan ceritaku sendiri dan tak lupa pula menuliskannya bersama seseorang yang ku kasihi.  J’ai fait un rêve d’explorer l’Europe avec toi…

Je t’embrasse.

@chiripaaa

Comments
6 Responses to ““Lumière dans le ciel de l’Europe”, 99 Cahaya di Langit Eropa”
  1. erick azof says:

    Setidaknya dirimu sudah menguasai bahasanya (Prancis), one step closer, right ?🙂 smg segera tercapai impiannya..aminn..

    btw, turki sepertinya tempat menarik selanjutnya…heheh! kebudayaanny jg unik🙂

    • Siva says:

      Belom kok, masih basicnya banget. Yup, one step closer, selanjutnya gw pengen inget lagi pelajaran bahasa Jerman gw jaman SMA, soalnya di Austria pake bahasa Jerman. heheehe…. Turki, Istambul, Alexandria, hmm…. wanna go there soon!

  2. Rahma says:

    Belajar dari sejarah sekaligus berhati-hati dalam melangkah. Perbanyak wawasan terutama ttg identitas kita sebagai manusia dan dr mana kita berasal. Tulisan yg bagus.

    Keep writing,, keep sharing shiva🙂

  3. aulleaul says:

    idenya menarik, menulis tulisan dengan seseorang yang dikasihi

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] keinginan untuk segera melepas masa lajang dan segera pergi ke tanah suci. Begitu baca “99 Cahaya di Langit Eropa” aku langsung ingin ke Eropa. Semuanya membuahkan keinginan yang memotivasi untuk melakukan […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: