Fabiayyi’ ala irobbikuma tukadziban

Dini hari di bulan suci Ramadhan.

Aku membuka mataku perlahan. Dibangunkan suara handphone dengan ringtone lagu “Homesick” yang dinyanyikan My Chemical Romance. Temanku di seberang sana menelpon untuk membangunkanku sahur. Aku menghela nafas sejenak. Biasanya mamaku yang membangunkanku. Suara piring dan alat masak telah berdentangan sejak jam 3 pagi dini hari. Kami sekeluarga makan bersama di meja makan diiringi gelak tawa dan candaan pagi. Suasana sahur yang aku rindukan. Selepas subuh aku yang seringkali langsung tidur terkadang masih mencuri dengar tausiyah dan diskusi mengenai agama yang dilakukan oleh Papa, Mama dan Abangku. Aku rindu suasana itu. Terkadang aku mengeluh. Jauh dari keluarga dan teman-teman bukan perkara yang mudah juga untukku. Rasa iri karena melihat mudahnya teman-temanku berkumpul dengan keluarga dan mengadakan reuni atau hanya sekedar nonton bareng tak bisa terabaikan begitu saja.

Tapi kemudian aku kembali merenung. Tentang apa yang kulalui. Aku tersenyum kecil. Sejauh ini Allah selalu memberikan apa yang terbaik bagiku. Aku bersyukur pagi ini terbangun dengan helaan nafas ringan tanpa beban. Suara adzan selalu terdengar nyaring setiap harinya disekitarku, di tempat tinggalku, dan di kantor tempat aku bekerja. Lebih bersyukur lagi karena di tempat aku bekerja menyediakan tempat beribadah yang layak, menyediakan fasilitas keagamaan yang memadai, dan memberikan waktu luang untuk beribadah. Berbagai acara keagamaan dan silaturahmi seperti buka puasa bersama, halal bihalal, atau pengajian rutin dilakukan. Salah satu kenikmatan yang tak ternilai adalah nikmat islam dan nikmat dimana di tempatku tinggal dapat beribadah dengan tenang. Tidak ada pembantaian umat muslim seperti yang terjadi di Ronghiya, Myanmar saat ini.  Dimana Aung San Suu Kyi, wanita yang menerima nobel perdamaian hanya terdiam menyaksikan peristiwa tersebut. Aku bersyukur tinggal di negara yang tidak melarang untuk menggunakan hijab dan menghargai perbedaan agama. Tidak ada perang yang berkepanjangan antar etnis ataupun diskriminasi ras. Sungguh, itu nikmat yang tak ternilai harganya.

“Maka, nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Aku sadar, mungkin seringkali kita melihat apa yang kurang pada diri kita dibandingkan dengan apa yang Allah berikan pada kita. Terbesit rasa iri pada kelebihan yang dimiliki orang lain tapi tidak kita punyai. Kita lupa bagaimana Allah menciptakan manusia tidak ada yang sempurna dan Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan daripada diri kita sendiri. Kesempurnaan hanya milik Allah. Namun, terkadang dengan angkuhnya kita melangkah dan lupa dengan nikmat yang Allah berikan. Lalu disaat terdesak kembali bersimpuh dihadapannya. Sangat memalukan. Ujian tidak hanya berupa kesengsaraan atau masalah, tapi ujian dari Allah juga berupa kenikmatan. Sejauh mana kita bisa lulus dengan baik dalam ujian-ujian itu. Kebahagiaan di dunia hanya sementara, kebahagiaan di akhiratlah yang kekal.

Aku bukan seorang alim ulama, ustadzah, atau ahli agama lain. Aku juga Cuma seseorang yang sedang belajar sedikit demi sedikit untuk lebih memantaskan diri menghadap Allah bila sudah tiba waktunya. Aku yang tiba-tiba menyadari bahwa penyebab utama dari ketidaktenangan pada hati adalah jauh dari Allah.

“Maka ingatlah Allah, maka hatimu akan menjadi tenang.”

And it happens

Dan manusia tidak dapat mengingkari bahwa konsep ketuhanan selalu melekat pada tiap diri individu, bahkan seorang Atheis sekalipun.

Bersyukur maka kita akan bahagia, bukan bahagia baru kita bersyukur.

Well, I think thats the point of my note today. Happy fasting!

L o v e @chiripaaa

Comments
3 Responses to “Fabiayyi’ ala irobbikuma tukadziban”
  1. rahma says:

    hehe, meskipun agak telat,,, rahma mau kasih tumbs up🙂

  2. erick azof says:

    “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu..” > ini salah satu penggalan dalam ayat Al-Quran…the point is, kita semua akan kembali dgn jiwa yang tenang, bukan jiwa yang grasak grusuk…how?? “Maka ingatlah Allah, maka hatimu akan menjadi tenang.”

    Namanya manusia, kadang iman naik..kadang iman turun…kadang hati tenang..kadang hati gak tenang…fungsinya teman, sahabat, ortu, sesama muslim yaitu saling mengingatkan dan menasihati…smg kt bs slg mnasihati dalam kebaikan…🙂 aamiin!

    ayo atuh kk…lanjut menulis lagi..😉 ditunggu tulisan2 selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: