You’re Like a Flower

Oh dear, liburan berasa cuma sekejap mata. Saatnya kembali ke rutinitas sehari-hari yang membuat mata gue kemarau air mata karena terlalu sering berhadapan dengan komputer. Sebenernya pengen lanjut cuti tapi sayang cuti dibatasi hanya 12 hari kerja setiap tahunnya belum dipotong cuti bersama yang mau gak mau mengambil jatah cuti gue. Dapet sih cuti besar setelah bekerja selama 3 tahun, jumlahnya 26 hari kerja tapi due date-nya baru muncul Desember ini untuk ngambil panjar cuti tahun depannya. Bingung? Yaaa.. gitu deh pokoknya…

Well, setelah tergopoh-gopoh membawa banyak tentengan oleh-oleh yang tak bisa bisa dimasukkan ke bagasi, gue masuk juga ke ruang tunggu. Gue pikir sudah terlambat, karena perpindahan gate, dari F3 ke F5, tapi ternyata orang-orang masih pada duduk santai di ruang tunggu. Setelah ke WC untuk memastikan seberapa buruk wajah gue yang kelelahan, sibuk lah gue planga-plongo nyari bangku yang masih kosong. Gue memicingkan mata dan akhirnya mendapatkan tempat duduk yang lumayan strategis, karena ada dua tempat duduk kosong bersebelahan, yang satunya bisa gue buat naro tentengan yang lumayan heboh sekalian buat ganjel lengan sambil main Candy Crush.

Ternyata gue berhadapan dengan bule paruh baya, berbadan besar, berkumis lebat dan sedang berbicara lewat hp dengan entah siapa. Ia mengenakan kaus hitam bertuliskan “PERU” dan celana safari pendek. Suaranya berat dan cukup besar, bahasa yang ia gunakan campur-campur antara Inggris dan indo. Walaupun telinga gue mencuri dengar apa yang diceritakannya via telefon, pandangan gue hanya tertuju pada layar HP karena sibuk bermain game. Akhirnya si bule selesai menelepon. Dari sudut mata gue, gue ngerasa dia ngeliatin gue terus (geer abis), agak merinding-merinding gimana gitu sih, diliatin om-om bule. Gue mesem-mesem tersenyum kecil padanya, dan melanjutkan permainan. Si om bule masih aja ngeliatin gue (brrr…). Akhirnya setelah beberapa menit gue ngerasa salah tingkah juga, dan akhirnya memberanikan diri menyapanya dengan bahasa inggris yang rada pas-pasan. Untung gue agak pedean, jadi salah-salah dikit bodo amat, asal dia ngerti mah.

Baru saja sepatah kata gue keluarkan, dia mengeluarkan wajah sumringah dan mengisyaratkan gue untuk segera pindah duduk kesebelahnya. Karena tak ada pilihan lain, dari pada dianggep orang bego karena diem aja pas disuruh pindah sama si om bule, akhirnya gue pindah juga. Demi etika dan kesopanan langsung gue akhiri permainan game yang lagi seru-serunya dan mulai mengobrol dengannya. Akhirnya kami pun berkenalan. Wow, ternyata si om Bule ini bekerja di perusahaan asing yang besar. Walaupun dia pake majas Litotes sih waktu cerita. Zzzz…

Si om Bule cerita (pake bahasa inggris ini ngobrolnya), keluarganya di Peru dan dia tinggal di Balikpapan. Waktu gue tanya apakah dia ga rindu dengan keluarganya dia hanya tertawa kecil dan mengatakan baru kembali dari Peru tempat keluarganya berada selama lima minggu. What? Lima minggu? Lama amat cutinyaaa… Ternyata selidik punya selidik dia bukan cuti tapi istilah kerjanya on-off, kerja lima minggu, off lima minggu, dan tiket pesawat ditanggung perusahaan. Such a little heaven in the world, eh?

Bukannya tidak bersyukur sih, perusahaan tempat gue kerja which is perusahaan dengan peminat pekerja paling tinggi seIndonesia dan baru-baru ini menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang masuk ke dalam jajaran Global 500 Perusahaan Terbesar Dunia versi majalah Fortune ini sudah cukuplah memberikan benefit kepada Pekerjanya. Tapi tetap saja, rumput tetangga lebih hijau deh cyiin… Selintas terbayang enaknya kerja 5 minggu on, 5 minggu off. Wow… surga banget bersenang-senang dan liburan selama 5 minggu baru kerja lagi dan itu terus berulang. Tapi balik lagi kalau bener-bener kayak gitu, bisa-bisa otakku cepet hang gara-gara jarang dipake. Jadi mending yang wajar-wajar aja deh yaaa.. dan tetep bersyukur tentu saja.Lily Flower

TIba-tiba gue jadi akrab sama si om bule, ngomongnya makin cas-cis-cus, gue jawab juga dengan cas-cis-cus terserah dia ngerti apa nggak, yang penting gue ngomong dah! Dia bertanya dimana gue tinggal, gue jawab gue tinggal di Rumah Dinas Perusahaan, dan ternyata si om bule ini selama “on” 5 minggu nginepnya di hotel bintang 5 Balikpapan cyiinn… Nasib kita sungguh berbeda tuan…

Akhirnya percakapan ditutup saat hendak naik ke Pesawat karena tentu saja seat kita ga sebelahan. Tiba-tiba dia bilang “You‘re like a flower?” Gue jawab : “What do you mean?” He said : “You are beautiful.” Jieehhh…. Padahal sih gue tau, muka gue udah macam benang kusut dengan mata berkantung. Opsi  pertama dia menghibur, opsi kedua matanya rada rabun senja. Hahaha… whatever lah, tetep aja gue mesem-mesem di puji sama bule. Yaaa… kali aja gue rada-rada mirip si chubby Drew Barrymore dan cute kayak Selena Gomez. Bwhahaa… ngarep!

L O V E @chiripaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: