Semoga gak ketemu yang begini lagi…

Guys, dalam satu hari ini saya dihadapkan pada beberapa kejadian yang pada akhirnya membuat saya menghela nafas. Sungguh yang namanya Corporate Values itu benar-benar harus tertanam pada seluruh pekerjanya.

Cerita ini tanpa bermaksud menjelek-jelekkan perusahaan tertentu, tapi hanya sebagai pelajaran untuk diri kita masing-masing yg bekerja pada suatu perusahaan untuk menjadi agent yang baik bagi perusahaannya. Jangan sampai istilah nila setitik rusak susu sebelanga dapat merusak citra perusahaan yg telah di bangun sedemikian baiknya.

Singkat cerita pagi ini saya mengalami 3 kejadian:

1. Naik taxi Blue Bird ke kantor saya di kawasan Gambir Jakarta Pusat. Harga di argo taxi tersebut adalah sekitar Rp. 30.500,- seperti biasa kalau bayar taxi selalu saya lebihkan pembayarannya buat tips si supir. Biasanya dilebihin 5rb sampe 10rb rupiah. Saya keluarkan uang 50rban untuk membayar. Sengaja saya tidak sebutkan jumlah yg harus si supir kembalikan untuk melihat sikap jujurnya. Kalo yg rese biasanya pura2 gak ada kembalian tuh. Dan bingo, si supir mengembalikan dengan uang 20rban. Lebih baik rugi keknya si bapak supir… Saya tersenyum lalu mengembalikan uangnya. “15rb saja pak, kembaliannya.”

2. Sehabis dari kantor saya melanjutkan perjalanan ke Bandung naik travel Cipaganti dari Cikini pkl 10.00. Sebelum naik ke travel si supir menyapa dengan senyuman: “Neng, ayo berangkat.” Saya tersenyum kembali padanya dan bergegas naik ke travel. Setelah itu sebelum menjalankan kendaraannya si supir memperkenalkan diri, “Aslmwrwb, akang2 dan eneng, perkenalkan nama saya …..(saya jg lupa namanya td), mari kita berdoa bersama, semoga perjalanan kita lancar dan selamat sampai tujuan. Saya berdecak kagum dengan apa yg dilakukannya, dalam hati saya berdoa semoga Allah memudahkan rezekinya. Subhanallah, hari ini banyak hal baik yg diperlihatkan kepada saya.

3. Setibanya di Bandung. Saya ingin kembali naik taxi blue bird. Sejauh ini taxi yg memberikan pelayanan terbaik masih diduduki oleh blue bird. Bukan karena kendaraan bagusnya, tp selama saya naik taxi blue bird saya blm pernah menemukan supir yg seenaknya menolak customer, tidak mau mengantar krn terlalu dekat, atau tidak jujur dalam mengembalikan uang. Nah, krn gak ada taxi blue bird waktu saya turun travel, saya naiklah taxi Cipag*nti. Klik. Argo pun menyala. Sesampainya di tempat tujuan argo menunjukkan harga 12rb rupiah. Saya keluarkan uang 14rb, sisa uang “kecil” yg saya punya. Pada waktu menerima uang itu si supir langsung menunjukkan wajah tidak senang:
Supir : “Berapa ini nengg?!”
Saya : “14rb Aa” kata saya sambil menunjuk argo.
Supir : “ya ampun, semoga saya gak ketemu penumpang kayak gini lagi! Semua orang jg tau neng kalo naik taxi bayarnya minimal 25rb!!”
Saya : *diam sejenak sambil mencerna situasi* “Yasudah A, saya tambahin yaa…” Sambil mau ngeluarin uang di dompet. Seingat saya minimum payment itu ada kalau kita manggil lewat telepon ato call center. Tapi saya sedang malas berdebat.
Supir : “Gak usah neng, cepet aja (maksudnya kayaknya nyuruh saya cepet pergi). Duh, semoga saya gak ketemu yg gini lagi… 2 rebu mah buat parkir doang neng!”
Saya langsung kehilangam respect saya dengan orang ini, saya hanya terdiam dan beranjak pergi. Ini cobaan biar gak maki2 orang di depan umum. Kalo saya lagi konslet jg bisa aja saya teriakin balik: Emang situ aja yg bisa ngomong ‘semoga saya gak ketemu yg kayak gini lg’ yeee, saya kan gak mau lagi naik Taxi Cipag*nti jd gak bakal ketemu lg sama situ! Syukurnya teriakan itu cuma saya simpan di hati kalau gak bisa heboh deh masuk koran dengan hilite “Perseteruan bocah dengan supir taxi”. Bisa repot.

Belum habis ternyata kegalauan si supir taxi Cipaganti. Tiba2 dia teriak: “Lain kali naik angkot aja neng gak usah naik taxi.”

Astagfirullah… Gini yaaa kelakuan supir taxi Cipag*nti? Apa di perusahaannya tidak pernah diajari tata nilai Customer Focused? Kalaupun memang uang yg saya kasih kurang, bisa kan ngomong baik2?

Saya tidak mengeneralisir setiap supir taxi Cipag*nti begitu sih. Hanya saja first impression pertama kali naik taxi ini mengecewakan.

Btw, bicara soal menjadi agent yang baik. Umat islam juga harus menjadi agent yg baik dalam berinteraksi dengan orang lain baik yg seiman ataupun bukan. Seperti yg dilakukan Fatma Pasha dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, pada saat ada orang non muslim menghina islam, dia hanya terasenyum dan malah mentraktir orang itu. Saya jd teringat abang saya pernah bilang:

“Berbuat baik kepada orang baik itu biasa. Berbuat baik dengan orang yg jahat itu baru luar biasa,”

Yaahh… Semoga kita selalu diberi kesabaran dan dilindungi dari segala penyakit hati oleh Allah.

Aamiin…

Love @ chiripaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
  • My Wedding Daisypath

    Daisypath Anniversary tickers
%d bloggers like this: